Cyber security global network.Businesswoman protecting data personal information smartphone and virtual interface. Data protection privacy concept. GDPR.Padlock icon and internet technology networking.

Memahami dan Melawan Lonjakan Ancaman Keamanan Siber di Indonesia

Oleh: Arki Rifazka (Direktur Eksekutif APJII)

Perusahaan di Indonesia terus menghadapi tantangan keamanan siber yang kian kompleks dan berkembang.

Data dari survei Kroll 2022 menggambarkan skenario yang cukup mengkhawatirkan: 84% responden telah mengadopsi pemantauan keamanan sebagai langkah pertahanan utama, menandakan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap risiko keamanan siber.

Namun, tingginya angka ini juga mencerminkan besarnya ancaman yang dihadapi.

Gangguan operasional dan kehilangan data tercatat sebagai konsekuensi utama dari insiden keamanan siber, dengan 62% dan 58% perusahaan melaporkannya sebagai kerugian terbesar mereka.

Gangguan bisnis seringkali mengakibatkan kerugian finansial langsung karena penghentian layanan atau produksi, sementara kehilangan data dapat berujung pada kerusakan reputasi yang berkepanjangan dan kehilangan kepercayaan pelanggan.

Reputasi yang rusak dan pencurian properti intelektual, yang dialami oleh 35% dan 29% perusahaan, mungkin tidak segera terasa dampak finansialnya.

Namun, dampak jangka panjangnya dapat sangat merugikan, mengingat reputasi adalah aset intangibel yang penting bagi perusahaan.

Pencurian properti intelektual juga merugikan karena dapat memberikan keuntungan kompetitif kepada pesaing yang tidak bertanggung jawab.

Biaya langsung dari serangan siber, seperti pembayaran tebusan dan biaya pemulihan sistem, serta biaya tidak langsung, seperti denda akibat pelanggaran regulasi, menambah beban finansial perusahaan.

Pembayaran tebusan, yang dilakukan oleh 23% perusahaan, merupakan dilema moral dan keamanan, karena dapat mendanai aktivitas kriminal lebih lanjut.

Denda regulasi, yang dikhawatirkan oleh 21% perusahaan, menunjukkan pentingnya kepatuhan terhadap standar keamanan yang ditetapkan oleh otoritas.

Untuk mengatasi ancaman ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia telah mengambil langkah-langkah pencegahan melalui investasi di alat keamanan perangkat keras dan perangkat lunak, serta migrasi ke komputasi awan.

Alat keamanan perangkat keras dan perangkat lunak, yang diadopsi oleh 80% perusahaan, memberikan lapisan perlindungan yang dapat menghalangi berbagai jenis serangan siber.

Sementara itu, komputasi awan, yang kini digunakan oleh 79% perusahaan, menawarkan keamanan data yang dikelola oleh penyedia layanan, yang biasanya memiliki sumber daya keamanan yang lebih luas dan lebih terkini.

Investasi dalam peningkatan anggaran keamanan, yang dilakukan oleh 75% perusahaan, menunjukkan pengakuan akan pentingnya sumber daya keuangan dalam melawan kejahatan siber.

Pelatihan karyawan, yang diikuti oleh 74% perusahaan, adalah langkah vital untuk mengurangi risiko yang disebabkan oleh kesalahan manusia, seringkali titik lemah dalam keamanan siber.

Penggunaan spesialis keamanan siber eksternal, yang diadopsi oleh 68% perusahaan, memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan keahlian yang mungkin tidak tersedia di dalam.

Solusi-solusi ini telah terbukti efektif, seperti yang ditunjukkan oleh survei Kroll.

Perekrutan spesialis keamanan siber telah berdampak signifikan dalam mengurangi frekuensi dan keparahan insiden siber, dengan 76% perusahaan melaporkan peningkatan keamanan mereka.

Demikian pula, peningkatan anggaran keamanan, yang dilakukan oleh 75% perusahaan, menunjukkan adanya investasi serius dalam aspek ini.

Pentingnya strategi keamanan siber yang efektif tidak dapat dilebih-lebihkan, terutama dalam lingkungan bisnis yang sangat tergantung pada teknologi.

Kehilangan data menjadi kekhawatiran utama bagi 82% perusahaan, menekankan urgensi untuk bertindak.

Strategi ini tidak hanya melindungi aset dan operasional perusahaan, tetapi juga mempertahankan kepercayaan pelanggan dan memenuhi kewajiban regulasi.

Dengan melihat urgensi dan dampak dari keamanan siber, jelas bahwa perusahaan di Indonesia harus memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi ancaman siber.

Komitmen terhadap strategi keamanan yang robust yang melibatkan seluruh ekosistem dan industri adalah kunci untuk menjaga tidak hanya aset dan data perusahaan, tetapi juga kepercayaan pelanggan dan keberlangsungan bisnis di masa depan. (AR)


Seize the opportunity to showcase your solutions, network with industry leaders, and stay at the forefront of Indonesia’s digital revolution.

0

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *