person-working-html-computer

Sigap Adopsi Teknologi, Blue Bird Dukung Transformasi Digital di Sektor Transportasi

Transportasi merupakan salah satu sektor yang sangat relevan dalam mengadopsi teknologi digital.
Perkembangan menuju era digital ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pengguna layanan transportasi, melainkan juga membawa dampak positif dalam hal efisiensi waktu.

Online banking application concept with digital bank building sign with indicators on virtual projection from digital tablet on man hand

Pertumbuhan Pelanggan Melalui Tranformasi Digital di Sektor Perbankan

Kinerja digitalisasi di sektor perbankan memiliki peran dan dampak yang sangat signifikan terutama bagi bank seperti UOB dalam konteks pertumbuhan basis pelanggan. UOB telah mencatat pertumbuhan yang luar biasa berkat strategi digitalnya.
Selain meningkatkan jumlah pelanggan, inovasi digital juga telah membawa dampak positif lainnya bagi UOB. Untuk menggali lebih dalam tentang kemajuan UOB dalam hal digitalisasi, DTI berkesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif bersama Edisono Limin, Executive Director dan Country Head of Channels And Digitalisation di UOB Indonesia untuk membahas perkembangan UOB melalui transformasi digital yang telah mereka jalani.

kegiatan ekonomi digital

Pengertian Ekonomi Digital : Definisi, Startegi, Dampak Terhadap Bisnis

Ekonomi digital di Indonesia sangat prospektif karena negara Indonesia memiliki populasi terbesar keempat di dunia. Hanya saja prospek ini masih terkendala karena baru penduduk di kota-kota besar saja yang sudah melek digital.

Deputi IV Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Kementerian Koordinator Perekonomian Rudy Salahuddin mengatakan sebanyak 40% nilai transaksi ekonomi digital di Asean berasal dari Indonesia pada tahun 2022 dengan nilai US$ 77 Miliar.

“Memperluas adopsi digital pada kota tier dua dan tiga membuka peluang pasar yang lebih tinggi” tutur Rudi.

Saat ini, penetrasi internet di Indonesia baru mencapai 76 persen dari total populasi. Angka ini lebih rendah daripada negara-negara di ASEAN. Ditambah lagi, banyak masyarakat belum tersentuh layanan perbankan.

Pengertian ekonomi digital

ekonomi digital

Melansir dari Deloitte, ekonomi digital adalah aktivitas ekonomi yang dilakukan secara online oleh orang, bisnis, perangkat data, dan proses. Pertumbuhan keterkaitan masyarakat, organisasi yang dihasilkan dari Internet, perangkat seluler, dan IoT yang merupakan tulang punggung ekonomi digital.

Kehadiran ekonomi digital perlahan merusak gagasan susunan bisnis konvensional seperti cara perusahaan berinteraksi dengan konsumen, cara konsumen mendapatkan layanan dan informasi dari produk yang digunakan.

Selain itu, ekonomi digital adalah bentuk transisi dari revolusi industri tiga menuju revolusi industri keempat. Kondisi dimana teknologi menjadi jembatan antara dunia fisik dengan dunia maya.

Ekonomi digital lebih menyoroti peluang dan kebutuhan organisasi untuk menggunakan teknologi tepat guna untuk mengerjakan pekerjaan dengan lebih baik, cepat, dan berbeda dari sebelumnya.

Strategi utama ekonomi digital

Berdasarkan Digital Economy Framework for Action, terdapat tiga strategi utama yang dimanfaatkan untuk melaksanakan ekonomi digital yaitu:

  • Mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan digitalisasi industri dan bisnis
  • Mengembangkan ekosistem untuk membantu bisnis tetap hidup dan kompetitif
  • Mengubah industri media menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital

Dampak ekonomi digital terhadap bisnis

Kemudahan dari ekonomi digital dalam bertransaksi

Ekonomi digital berdampak pada semua industri. Suatu saat, semua aktivitas ekonomi akan dipengaruhi oleh transformasi digital.

Kekuatan daya dapat mempengaruhi perusahaan untuk membantu memahami industri dan konsumen jauh lebih baik. Makin banyak orang meningkatkan pemakaian teknologi, makin banyak informasi tentang konsumen yang mempengaruhi perkembangan perusahaan.

Ekonomi digital memungkinkan untuk mengembangkan produk dan layanan secara eksponensial. Sebuah platform makin banyak membuat produk dan layanan yang lebih kompleks bagi banyak orang.

Pillar keberhasilan ekonomi digital

Berdasarkan MIT Sloan research, perusahaan yang mengadaptasikan digital mendapatkan profit 26% lebih banyak dibandingkan industry peers.

Menurut penelitian tersebut, keberhasilan ekonomi digital dipengaruhi oleh empat pilar utama yaitu customer expectation, product enhancements, collaborative innovative, dan organizations forms.

Customer expectation

Teknologi digital membuat perusahaan untuk lebih terikat dengan konsumen dan menawarkan produk dengan harga terjangkau. Namun, memberikan pengalaman yang luar biasa tidaklah mudah karena pelanggan semakin cerdas.

Saat ini, pelanggan mengharapkan pengalaman proaktif. Pemakaian big data menjadi salah satu pendorong untuk memberikan pengalaman proaktif bagi pelanggan. Perusahaan dapat memanfaatkan data untuk menemukan celah keamanan perusahaan, privasi data, dan keterbatasan analitik yang terlihat jelas.

Product enhancements

Perusahaan yang sedang berkembang perlu mengintegrasikan produk terkait ke dalam solusi industry sembari memperluas jangkauan industri. Yang pada akhirnya dapat menciptakan potensi industri baru.

Terlepas dari produk individu, perusahaan memanfaatkan platform untuk menghubungkan antara penjual dengan pembeli, pemilik dengan penyewa, dan pengemudi dengan penumpang. Beberapa platform berhasil memunculkan ekonomi baru akibat permintaan konsumen yang semakin banyak, ini dapat dilihat dari perusahaan transportasi seperti Uber dan Gojek.

Collaborative innovations

Perusahaan harus lebih inovatif dalam merespon pasar yang kompetitif. Kolaborasi diperlukan untuk menghadirkan inovasi baik untuk perusahaan, pelanggan, mitra, praktisi, sampai Lembaga riset peneliti.

Agar dapat berkembang, perusahaan berkolaborasi untuk membangun ekosistem yang bergerak melampaui rantai pasokan linier.

Berdasarkan penelitian MIT, perusahaan dengan pendapatan 50% atau lebih dari ekosistem digital memiliki pendapatan lebih tinggi dan margin keuntungan lebih tinggi daripada rata-rata industri mereka.

Kemunculan Internet of Things penting dalam keberlangsungan kolaborasi dan ekosistem. Di mana banyak perusahaan memastikan penawaran kerja sama mereka di semua area industri mulai dari kesehatan, otomasi, sampai smart city.

Organizational leadership

Perusahaan perlu menata ulang struktur dan budaya perusahaan untuk menghasilkan pasar dan model bisnis baru. Model production-oriented industry economy tidak akan bekerja di dunia ekonomi digital yang cepat berubah.

Perusahaan melibatkan data scientist untuk meningkatkan pembelajaran organisasi. Membuat keputusan lebih cepat dengan mengandalkan algoritma, AI, robot, dan teknologi lainnya.

Ekonomi digital menjadi salah satu masalah yang dihadapi sekarang. Teknologi mempercepat transformasi digital dalam lingkup sosial dan bisnis, dan melahirkan jenis ekonomi baru di masa depan. Walaupun begitu, ekonomi digital mampu mendisrupsi kultur ekonomi dan sosial yang sudah ada. Hal ini serupa dengan kelahiran revolusi industri pada abad ke 18.

Dapatkan paparan terkait ekonomi digital yang berkelanjutan dalam conference bertajuk Digital Transformation as the Key to National Digital Economic Growth (AFTECH Role). Kunjungi digitaltransformation.co.id untuk informasi dan registrasi.

penerapan RPA di industri perbankan

Penerapan RPA dalam Industri Perbankan

Berdasarkan studi dari McKinsey, sekitar 60% pekerjaan dapat diotomatisasi dengan memakai RPA (Robotic Process Automation). Kesalahan manusia dalam sektor manusia menghasilkan 25.000 jam pengulangan pekerjaan di sektor keuangan.

Tak heran jika institusi keuangan menerapkan RPA untuk mengembangkan layanan kepada nasabah.

Penerapan RPA dalam industri perbankan menghindari pekerjaan repetitif. Sehingga dapat mengajak karyawan untuk berfokus pada tugas yang lebih krusial demi meningkatkan daya saing di industri.

Agar menunjang penerapan transformasi digital, bank mengimplementasikan RPA dengan menambahkan artificial intelligence. Hal ini memungkinkan RPA menangani proses dan beradaptasi dengan data real time.

Keuntungan menerapkan RPA di industri perbankan

Menerapkan RPA di perbankan

Melansir dari itrexgroup.com, berdasarkan McKinsey, operasi akuntansi umum memiliki potensi untuk otomatisasi di bidang keuangan. Fungsi pengembangan bisnis dapat diotomatisasi mencapai 56%.

Pasar global RPA mencatatkan nilai sebesar $1,57 miliar di tahun 2020 dan diperkirakan akan meningkat pada CAGR sebesar 32,8% dari tahun 2021 sampai 2028.

Berdasarkan Garner, 80% pimpinan di sektor keuangan memakai RPA untuk berbagai tujuan organisasi. Salah satunya dengan menerapkan RPA di industri perbankan.

Berikut ini adalah keuntungan RPA di industri perbankan.

Memungkinkan menskalakan operasi dengan mulus

Robot dapat bekerja lebih lama dan tidak perlu berhenti. Dampaknya adalah dapat mengelola lonjakan volume permintaan selama jam sibuk.

Menghemat waktu

Ketika menyiapkan aplikasi, efeknya mampu mengurangi waktu untuk mengerjakan pekerjaan tertentu sampai 90%.

Mengurangi pengeluaran

Deloitte memprediksi pemakaian RPA mampu mengurangi biaya sebesar 30%. Accenture memperkirakan penurunan biaya sebesar 80% dengan memakai robot untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu.

Meminimalisir intervensi departemen IT

Dengan memakai RPA, semua karyawan non IT dapat dilatih untuk mengelola secara mandiri. Dengan begitu intervensi dengan departemen IT dapat dikurangi.

Tidak ada biaya infrastruktur tambahan

Implementasi RPA di bidang keuangan maupun perbankan tidak memerlukan perubahan infrastruktur yang signifikan. Ini merupakan lapisan yang berada di aplikasi perbankan yang sudah ada.

Meningkatkan efisiensi karyawan

Berdasarkan studi, robot mampu bekerja lima kali lebih cepat daripada manusia. Maka, orang tidak perlu membuang waktu dan energi untuk mengerjakan tugas rutin. Keuntungan ini membuat karyawan dapat fokus pada hal produktif lainnya.

Mengurangi kesalahan manusia

RPA memiliki cara kerja yang sistematis dalam menangani tugas-tugas yang diberikan. Hal ini memberikan kualitas dengan menghilangkan kesalahan yang mungkin dilakukan karyawan pada umumnya.

Pentingnya RPA dalam industri perbankan

Mengutip dari automationedge.com, industri perbankan berurusan dengan data nasabah dalam jumlah banyak. Proses pengolahan data secara manual tidak luput dari error.

Ekstraksi data membuat operasional bank rawan terjadi kesalahan. Satu kesalahan saja dapat berpotensi pada pencurian, penipuan, hingga pencucian uang.

Memperkenalkan bot untuk proses manual dapat mengurangi biaya pemrosesan sebesar 30 sampai 70%. Berbagai proses di bank dapat diotomatisasi agar karyawan dapat mengerjakan tugas yang lebih penting.

Penerapan RPA dalam industri perbankan

Pembuatan laporan

RPA mampu mengotomatiskan berbagai tugas pelaporan yang meliputi penutupan bulanan, rekonsiliasi, dan laporan manajemen. Berdasarkan aturan kepatuhan, bank dan lembaga keuangan perlu menyiapkan laporan kinerja kepada dewan direksi.

Dokumen ini terdiri dari kumpulan data yang membosankan dan rawan kesalahan. Hadirnya RPA dapat mengumpulkan data secara efisien dari berbagai sumber, memasukan ke dalam format yang dapat dimengerti dan menhasilkan laporan bebas kesalahan.

Selain membantu membuat laporan, RPA juga membantu memproses laporan aktivitas yang mencurigakan. Alih-alih membaca dokumen panjang, petugas dapat mengandalkan software dengan kemampuan pemrosesan bahasa alami.

Sistem ini dapat mengekstraksi informasi yang diperlukan untuk mengisi ke dalam formular SAR.

Utang usaha

Menyelesaikan utang dagang akan memakan waktu karena perlu memvalidasi semua kolom data sebelum melakukan proses pembayaran. Terutama jika dilakukan secara manual. Namun masalah ini dapat diselesaikan dengan RPA dengan Optical Character Recognition (OCR) untuk mengambil alih tugas.

OCR mampu mengekstrak informasi tagihan dan meneruskan ke robot untuk validasi proses pembayaran. Apabila terjadi kesalahan, sistem akan memberi tahu kepada pegawai bank.

Mengurus KPR

Mengurus KPR adalah salah satu kasus pemakaian RPA yang paling menonjol.

Berdasarkan The Mortgage Reports, menutup pinjaman hipotek bank dapat memakan waktu 60 hari. Hal ini karena membutuhkan banyak pemeriksaan yang meliputi verifikasi pekerjaan, pemeriksaan kredit, dan berbagai inspeksi lainnya. Kesalahan kecil yang dilakukan karyawan maupun nasabah dapat memperlambat proses mengurus KPR.

RPA mampu memangkas proses pinjaman mencapai 80% sehingga menyenangkan kedua belah pihak.
Pada era Covid-19, perusahaan mencatat pendapatan produksi pinjaman mencapai 30% lebih banyak daripada industri lainnya.

Mengenal konsumen

Proses pengenalan konsumen dapat memakan waktu. Bank dapat menghabiskan 1000 jam penuh untuk melakukan proses ini dengan cara yang sesuai. Selain itu, investigasi peringatan juga memakan waktu, sementara 85% dari peringatan harian adalah positif palsu, dan 25% perlu ditinjau oleh analis senior level dua.

Memasukan RPA di bidang perbankan untuk pengenalan konsumen mampu meminimalisir kesalahan yang terjadi. Dengan demikian, dapat mengatisipasi interaksi yang kurang menyenangkan dengan pelanggan untuk menyelesaikan masalah.

Maka dari itu, RPA akan mempercepat proses onboarding pelanggan dan meningkatkan pengalaman pelanggan.

Pengajuan kartu kredit

Mengajukan kartu kredit biasanya memakan waktu berminggu-minggu untuk memvalidasi informasi nasabah dan persetujuan kartu kredit. Masa tunggu yang lama ini menimbulkan ketidakpuasan pelanggan dan biaya bank.

Dengan bantuan RPA, bank dapat memproses permohonan dalam hitungan jam. RPA dapat berbicara dengan banyak sistem secara bersamaan untuk memvalidasi informasi seperti dokumen, pengecekan latar belakang, hingga pemeriksaan kredit untuk mengambil keputusan berdasarkan persetujuan atau penolakan aplikasi.

RPA menjadi salah satu teknologi yang digunakan industri perbankan. Penggunaan AI dibutuhkan untuk memeriksa data nasabah dalam jumlah besar. DTICX 2023 akan mengadakan konferensi yang membahas masa depan bank di Indonesia? Dapatkan insight transformasi digital di perbankan dengan klik tautan di bawah ini.

DTI-CX 2023 Registration

robotic process automation

Robotic Process Automation (RPA) : Pengertian, Cara Kerja, dan Keuntungan

Robotic Process Automation (RPA) adalah salah satu alasan dibalik pertumbuhan industri keuangan dan perbankan beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan Gartner, pada tahun 2020, banyak organisasi menerapkan RPA untuk menjawab tantangan nasabah di tengah pembatasan sosial. Pada artikel ini akan membahas pengertian robotic process automation beserta manfaatnya dalam industri keuangan.

Pengertian Robotic Process Automation

Robotic Process Automation

Robotic Process Automation adalah software untuk mengerjakan back office secara otomatis. Bentuknya meliputi ekstraksi data, memasukan form, hingga memindahkan file.

Teknologi ini memadukan API dan interaksi user interface (UI) untuk melakukan pekerjaan repetitif antara organisasi bisnis dan produktivitas. Dengan pengembangan yang meliputi proses manusia, alat RPA menyelesaikan eksekusi otomon dari berbagai aktivitas di seluruh sistem software yang tidak terkait.

Bentuk otomasi ini memakai software berbasis aturan untuk melakukan proses bisnis dalam jumlah besar. Serta membebaskan sumber daya manusia dari pekerjaan repetitif.

RPA memungkinkan para pembuat keputusan mempercepat proses transformasi digital dan menghasilkan Return of investment (ROI) yang lebih tinggi.

Cara kerja RPA

Software RPA dapat beroperasi dengan melibatkan kapasitas utama sebagai berikut

  1. Membuat skrip otomatisasi dengan kemampuan low-code
  2. Terintegrasi dengan aplikasi enterprise
  3. Memadukan administrasi yang meliputi konfigurasi, pemantauan, dan keamanan

Teknologi RPA dapat mengakses informasi melalui sistem yang terintegrasi melalui integrasi front-end. Ini memungkinkan platform otomasi berperilaku seperti pekerjaan manusia.

Sedangkan, koneksi backend ke database dan layanan web perusahaan dapat membantu melakukan otomasi. Kunci dari RPA adalah integrasi front-end yang cepat dan sederhana.

Keuntungan menerapkan RPA

RPA memiliki berbagai keuntungan yang didapatkan jika mengimplementasikan dengan baik

Lebih sedikit pengkodean

RPA tidak mengharuskan pengembang untuk konfigurasi. Pemakaian fitur drag-and-drop di user interface memudahkan pemakaian bagi staf non-teknis.

Penghematan biaya yang cepat

RPA mampu mengurangi beban kerja tim. Staf dapat dialokasikan melalui pekerjaan prioritas lain yang membutuhkan input manusia. Dengan demikian perusahaan dapat meningkatkan meningkatkan produktivitas dan ROI.

Menaikkan kepuasan pelanggan

Hadirnya bot dan chatbot mampu bekerja sepanjang waktu. Keuntungannya dapat mengurangi waktu tunggu pelanggan. Ini berdampak dengan tingginya tingkat kepuasan pelanggan.

Meningkatkan moral karyawan

Dengan mengangkat beban kerja yang berulang, RPA memungkinkan orang untuk fokus pada pengambilan keputusan yang lebih strategis. Pergeseran kerja ini memiliki efek positif pada kebahagiaan karyawan.

Akurasi dan kepatuhan yang lebih baik

Anda dapat memprogram robot RPA untuk mengikuti alur kerja tertentu. Dengan ini, Anda dapat mengurangi kesalahan manusia, terutama yang membutuhkan akurasi dan standar kepatuhan.

RPA dapat memberikan jejak audit untuk memantau kemajuan dan menyelesiakan masalah lebih cepat.
Tetap mempertahankan sistem yang sudah ada

Perangkat lunak RPA tidak mengganggu sistem apapun. Sebab, pada dasarnya bot bekerja pada lapisan yang sudah ada. Jadi, Anda dapat mengimplementasikan bot dalam situasi yang tidak membutuhkan application programming interface (API) maupun sumber daya untuk pengembangan integrasi.

Penggunaan RPA dan Artificial Intelligence

Seringkali, RPA disalahartikan dengan artificial intelligence, padahal keduanya berbeda. AI menggabungkan otomasi kognitif, machine learning, natural language processing, reasoning, pembuatan hipotesis dan analisis.

Bot RPA hanya mengikuti proses yang sudah ditentukan oleh penggguna. Sementara, bot AI memakai machine learning untuk mengenali pola data, terutama data tidak terstruktur.

Dengan kata lain, AI mensimulasi kecerdasan manusia dan RPA mereplikasi tugas yang dilakukan manusia. Sementara itu penggunaan kecerdasan buatan dan alat RPA meminimalkan kebutuhan intervensi manusia.

RPA dan AI saling melengkapi. AI membantu RPA mengotomasi tugas secara lengkap dan penggunaannya lebih kompleks. RPA memungkinkan menindaklanjuti wawasan AI lebih cepat daripada menunggu implementasi manual.

Contoh kasus penggunaan RPA

Finansial

Berdasarkan laporan Forrester, pasar layanan RPA mengalami pertumbuhan mencapai USD 12 Miliar pada tahun 2023. 36% dari semua kasus penggunaan berada di bidang keuangan dan akuntansi.

Saat ini, banyak bank besar menggunakan solusi otomatisasi RPA untuk mengerjakan tugas seperti riset pelanggan, pembukaan rekening, menjawab pertanyaan konsumen, hingga anti pencucian uang.Bank

menyebarkan ribuan bot untuk mengotomatiskan entri data volume tinggi secara manual. Proses ini membutuhkan tugas berbasis aturan namun sudah diotomatisasi dengan RPA.

Asuransi

Agen asuransi tidak lepas dari pekerjaan repetitif. Makanya dibutuhkan proses otomasi untuk mempercepat tugasnya. Contohnya adalah pemakaian RPA untuk proses klaim, kepatuhan aturan, manajemen kebijakan, dan penjamin emisi.

Ritel

Hadirnya e-commerce menjadikan RPA sebagai komponen integral dari industri ritel modern untuk meningkatkan operasional dan pengalaman pengguna.

Kemunculan aplikasi e-commerce melibatkan manajemen hubungan pelanggan, manajemen gudang dan pesanan, menanggapi umpan balik pelanggan, dan mendeteksi penipuan.

Kesehatan

Akurasi dan kepatuhan menjadi hal penting dalam industri kesehatan. Beberapa rumah sakit memakai software RPA untuk mengoptimalkan manajemen informasi, resep, proses klaim asuransi, hingga siklus pembayaran. Dengan ini, rumah sakit dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

tren teknologi industri perbankan

7 Macam Tren Teknologi Industri Perbankan 2023

Tren teknologi industri perbankan mulai dirasakan oleh masyarakat, terutama pasca pandemi covid-19. Terlihat dari banyaknya layanan dan produk digital dari perbankan, terutama di Indonesia. 

Produk bank digital pun mulai dirasakan oleh masyarakat. Kemudahan pembayaran dan transaksi menjadi menyenangkan. Hanya butuh waktu singkat sehingga Anda dapat mengerjakan pekerjaan lainnya.

Industri perbankan mulai meningkatkan customer experience dengan memanfaatkan artificial intelligence. Sementara, blockchain tersambung dengan transaksi finansial streamline untuk menaikan transparansi. 

Tren teknologi industri perbankan

Mesin ATM

Berdasarkan riset dari Top Banking Technology Trends & Startup, lebih dari 1926 perusahaan menghasilkan inovasi berbasis data driven yang menaikan kemampuan pengambilan keputusan strategik dengan memberikan manfaat teknologi pada industri perbankan. 

Berdasarkan peta inovasi teknologi perbankan, menggambarkan dampak tren teknologi industri perbankan pada tahun 2023. AI memungkinkan bank untuk mengotomasi interaksi nasabah dengan chatbot. Open banking dan hyper-personalized banking memberi pengalaman konsumen yang unik.

Selain itu, blockchain dapat meningkatkan integritas sistem keuangan. Internet of things memungkinkan respons transaksi keuangan secara real time. Sementara, solusi keamanan makin melindungi sistem perbankan dari cyber crime

Teknologi imersif membawa bank ke arah metaverse dan meningkatkan interaksi dengan pelanggan. Startup menawarkan platform otomasi proses robot (RPA) untuk merampingkan proses perbankan. 

1. Artificial Intelligence

Bank memanfaatkan artificial intelligence untuk menyediakan layanan perbankan  kepada nasabah. Hal ini mampu menghemat biaya operasional dan efisiensi pekerjaan. Salah satu bentuknya adalah pemakaian chatbot untuk berinteraksi dengan nasabah.

Nantinya, chatbot memberikan informasi akun kepada pelanggan dan menyelesaikan kueri terkait. Biometrik dengan AI dapat mendeteksi kecurangan dan menaikan keamanan data nasabah. 

Algoritma machine learning dapat memberdayakan pemodelan skor kredit untuk membantu bank memberikan pinjaman. Dengan dukungan komputer untuk menyederhanakan analisis dokumen sesuai dengan orientasi pelanggan dan manajemen kepatuhan. 

Manfaat lain dari AI adalah menganalisa data keuangan untuk meningkatkan penilaian risiko dan prediksi keuangan. Nantinya mampu membantu investor dalam mengambil keputusan investasi. 

2. Open Banking

Open banking adalah konsep layanan keuangan perbankan untuk berbagai data finansial pada pihak ketiga melalui API (Application Programming Interface) dan platform terbuka. Konsep ini muncul pada tahun 2010 melalui peluncuran directive Payment Services (PSD) oleh Uni Eropa. Dari sini, perbankan wajib memfasilitasi pengiriman pembayaran dari pihak ketiga lewat API. 

API memungkinkan pengembang pihak ketiga mengakses data keuangan pelanggan dengan aman tanpa mengorbankan kepatuhan data. Open banking mencakup aggregator akun yang memungkinkan pelanggan mengelola semua akun bank lewat satu platform. 

Bukan cuma itu, API dari bank memungkinkan perusahaan keuangan non perbankan mengintegrasi fungsional perbankan kedalam aplikasi layanan mereka. Selain itu, open banking memungkinkan terjadi banking-as-a service (BaaS) untuk menjangkau nasabah baru. 

3. Hyper-Personalized Banking

Pengamanan perbankan yang dipersonalisasi dapat meningkatkan retensi nasabah. Inilah mengapa bank memanfaatkan berbagai strategi seperti buy now pay later, omnichannel, dan alat penasihat keuangan dan menyesuaikan penawaran pada konsumen

Perbankan omnichannel memberi tampilan informasi keuangan terpusat pada pelanggan sembari berinteraksi melalui berbagai saluran. Dengan demikian, bank memakai AI dan machine learning merekomendasi produk keuangan secara real time.

4. Blockchain

Blockchain menyediakan catatan anti rusak dari semua transaksi keuangan dan peningkatan keamanan transaksi. Bukan cuma itu, ini mampu meningkatkan efisiensi perdagangan melalui otomatisasi transaksi dan merampingkan operasi manual berbasis kertas.

Adanya smart contract dapat mengotomatisasi transaksi keuangan dan meningkatkan kinerja kontrak keuangan. Ini dapat meniadakan kebutuhan perantara dan memungkinkan transaksi peer-to-peer (P2P). Hal ini mampu meningkatkan kecepatan dan efisiensi transaksi pada pembayaran lintas batas. 

Semantara, keuangan terdesentralisasi memanfaatkan blockchain untuk menghadirkan layanan keuangan yang mudah diakses sembari menurunkan biaya transaksi.

5. Banking of Things

Industri perbankan menerapkan IoT untuk mengumpulkan data yang efisien. Hal ini mengotomatiskan akuisisi data untuk merampingkan proses perbankan untuk merespon secara real time.

Anda dapat melihat pada mesin ATM berkemampuan IoT yang mampu mengirim peringatan untuk tingkat kasa yang rendah dan pemeliharaan tepat waktu. Kehadiran dompet digital berbasis IoT ke dalam ponsel memungkinkan nasabah melakukan transaksi. 

Perangkat IoT mengirimkan data ke pelanggan secara real time agar bank dapat mendeteksi penipuan dan kerugian. 

6. Cybersecurity

Industri keuangan memegang data nasabah dalam jumlah besar. Demi menjaga keamanan data, diperlukan infrastruktur IT untuk mengatasi kejahatan cyber

Maka dari itu, perusahaan penyedia layanan keamanan data dan manajemen kepatuhan data perlu menyesuaikan sistem perbankan. Solusi keamanan ini memungkinkan bank dapat melindungi data nasabah. 

Semakin luas alat enkripsi data mampu mengurangi resiko kebocoran data. Deteksi penipuan yang didukung AI dapat mengidentifikasi dan mencegah pencurian data dan phishing.

Perbankan juga memanfaatkan software anti-peretasan untuk melindungi jaringan yang tidak sah. Fitur ini membantu bank dalam meningkatkan deteksi dan respon ancaman. 

7. Teknologi imersif

Teknologi imersif menghadirkan customer experience yang interaktif dan personalisasi. Augmented Reality (AR) dan virtual reality (VR) mengoptimalkan interaksi antara bank dan nasabaH. 

VR memungkinkan bank melatih karyawan berbagai prosedur, produk, dan pengaturan perbankan dalam lingkungan interaktif. Teknologi ini menjadi tempat pelanggan menjelajahi lingkungan virtual. Hadirnya lingkungan virtual membuat bank mampu merampingkan proses pengajuan pinjaman.

Adanya bank metaverse memungkinkan pelanggan berinteraksi di lingkungan virtual. Dengan memanfaatkan teknologi imersif, memastikan customer experience makin menarik untuk kepuasan dan loyalitas nasabah.

tren-teknologi-industri-keuangan

6 Tren Teknologi Industri Keuangan 2023

Industri keuangan mulai mengeksplorasi transformasi digital sebagai langkah strategis untuk mengembangkan bisnis. Sebagian besar industri memprioritaskan pengembangan bisnis dan IT untuk mengikuti tren teknologi.

Teknologi adalah pendorong utama semua industri sedang berkembang pesat. Tak terkecuali dengan industri keuangan. Berdasarkan explofingtopiscs.com, estimasi pasar fintech secara global mendapatkan keuntungan mencapai $165.17 triliun pada tahun 2023. Angka ini diprediksi 3 kali lipat pada tahun 2027

Prioritas teknologi industri keuangan

Terlepas dari tren yang terjadi, terdapat berbagai prioritas yang perlu diperhatikan dalam menerapkan transformasi digital dalam industri keuangan. Berikut adalah prioritas berdasarkan Forbes.

Saluran omnichannel

Melibatkan saluran omnichannel adalah cara nasabah untuk berinteraksi dengan industri keuangan. Maka dari itu, pengembangan saluran omnichannel dalam organisasi untuk memastikan setiap data pelanggan muncul secara tepat dan real time demi membangun pengalaman pelanggan yang menyenangkan.

Berfokus pada teknologi vertical

Mengadopsi alat dan teknologi untuk membantu menyelesaikan masalah nasabah dengan lebih efektif. Dengan demikian, akan menghasilkan nilai yang lebih besar.

Tren teknologi industri keuangan

Tren tekologi industri finansial

Apa saja teknologi yang membantu menyelesaikan masalah prioritas saluran omnichannel dan teknologi vertikal? Berikut adalah tren teknologi yang dapat menunjang transformasi digital bagi perusahaan keuangan.

1. Perbankan gesit dan adaptif

Industri keuangan perlu gesit untuk meluncurkan produk baru dengan efisiensi tinggi. Perusahaan keuangan, lembaga keuangan, bank, dan bisnis asuransi tetap fleksibel dan gesit bertahan dalam jangka panjang.

Gartner melakukan riset yang menunjukan tahun 2023 sekitar 80% lembaga keuangan tradisional akan lenyap. Selain itu, studi perbankan oleh Journal of Business Economic menunjukkan 77% bank dan 44% perusahaan FinTech berniat meningkatkan layanan keuangan mereka dengan mengadopsi metode Agile.

2. Cloud computing

Berdasarkan Statista, pemakaian cloud pada layanan keuangan di AS mencapai 54% dalam tahun 2021. Banyaknya data yang ditangani oleh organisasi, sisanya dilakukan memakai bus.

Perusahaan keuangan seperti bank dan asuransi merespon regulasi dan kebutuhan konsumen dengan cepat. Maka dari itu, dibutuhkan akses data yang lebih mudah dan cepat.

Makin banyak perusahaan keuangan mempelajari pemakaian cloud pada bisnis akan mengoptimalkan biaya untuk memperoleh keuntungan maksimal.

Pasar cloud keuangan global memiliki nilai $29 miliar dan diperkirakan akan meningkat pada CAGR sebesar 22% pada tahun 2027. Ini artinya transformasi digital membentuk penawaran teknologi dan pengalaman pengguna produk keuangan.

Migrasi proses keuangan ke cloud menjadi keharusan. Mengapa demikian? Karena dapat memberikan keuntungan bagi industri keuangan sebagai berikut.

  • Pengurangan biaya terkait dengan meninggalkan pusat data fisik
  • Ketangkasan dan skalabilitas melalui peningkatan kapasitas penyimpanan data cloud
  • Akses data yang lebih cepat dengan waktu henti yang lebih rendah.
  • Meningkatkan keamanan data dan transparansi data

Pemanfaatan cloud ke dalam sektor jasa keuangan membuat aman, efisien, transparan, dan efektif. Perkembangan cloud computing yang pesat adalah solusi yang tepat untuk industri yang menghargai data. Walaupun dalam pengadopsiannya masih terkendala oleh beberapa aturan yang berat.

3. Data analytic tingkat lanjut

Analitik tingkat lanjut menjadi kunci untuk profil pelanggan, keterlibatan omnichannel, dan retensi pelanggan. Pandangan 360 derajat tentang pelanggan, segmentasi, demografi, dan behavior konsumen memudahkan produk apa yang dicari pelanggan dan menawarkannya secara real time. Analitik dapat mendefinisikan ulang terkait proses di industri keuangan agar lebih efektif.

Pemakaian analitik tingkat lanjut berguna untuk mendeteksi penipuan pada seluruh proses bank. Syarat utama agar analitik dapat bekerja adalah manajemen data yang solid.

Salah satu bank di eropa telah menggabungkan analitik teks dan algoritma model terbaru untuk identifikasi karakteristik segmen pelanggan yang berpotensi beralih ke bank lain.

Dari sini, bank terbantu untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan karena menerapkan metodologi Agile.

Pendekatan metodologi Agile berfokus pada model produk sentris untuk menghadapi tantangan di industri keuangan. Pendapat tersebut antara lain

  • Risiko tak terduga yang terkait dengan maraknya pencurian uang secara online
  • Tekanan dari banyaknya undang-undang dan regulasi pemerintah menjadi tantangan tersendiri
  • Kurang akses jarak jauh ketika melakukan tinjauan regulasi
  • Permintaan baru yang berlebih dalam segmen layanan pinjaman dan perencanaan keuangan

4. Artificial Intelligence dan Machine Learning

Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) sering digunakna karena inovatif dan mutakhir. Dapat dikatakan, AI di pasar FinTech mengalami pertumbuhan tercepat di sana.

Mengapa demikian, penggunaan chatbot AI di sektor perbankan menghemat 826.000.000 jam kerja. Terdapat peningkatan global sebesar 104% ketika melakukan penelusuran lewat mesin pencari “AI dalam perbankan”.

Mengapa pemakaian AI dan ML bagus untuk sektor perbankan.

  • Menaikan produktivitas dan efisiensi operasional, serta membantu memantau kualitas dan proses data keuangan dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
  • Meningkatkan personalisasi dalam penyediaan layanan. Teknologi ini mampu menilai informasi personal klien untuk meningkatkan layanan mereka
  • Melahirkan produk dan layanan baru untuk membantu lembaga keuangan menghadirkan manfaat dari model bisnis baru.

AI dan ML merupakan teknologi yang membantu pemanfaatan data yang lebih baik. Dan menjadi aset berharga di jasa keuangan untuk tahun-tahun mendatang.

5. Perbankan hiper-otomatis dengan Robotic Process Automation (RPA)

RPA dan hiper-otomatisasi perbankan diperkirakan mencapai $4,9 miliar pada tahun 2029. Setiap tahun, pasar perbankan RPA dan hiper-otomatis mengalami pertumbuhan seperempat dari nilainya. Pertumbuhan ini terjadi pengaruh penerapan transformasi digital.

Sejatinya, industri keuangan sudah lama memakai hiper-otomatisasi. Bedanya dengan zaman sekarang adalah hiper-otomatisasi sudah meningkatkan kecepatan transaksi keuangan dan perbankan. Dengan demikian, instrument dapat membantu mengurangi biaya operasional sekaligus kesalahan dari manusia.

RPA dengan hiper-otomatisasi memakan banyak waktu sehingga mengalihkan tanggung jawab staff ke tugas keuangan inti. Fenomena ini mampu mengurangi kesalahan manusia hingga pelanggaran data. Accenture mencatat 73% responden percaya RPA adalah kunci untuk kepatuhan yang lebih baik.

Laporan Deloitte menunjukan sekitar 80% nasabah perbankan telah berinteraksi dengan satu alat RPA dalam kurun 12 bulan.

6. Buy Now Pay later

Skema kredit sudah ada sejak zaman dahulu. Metode pembelian kredit dilakukan secara cicilan, namun pembelian cicilan tanpa bunga merupakan hal baru.

Pembelian cicilan sering dipakai untuk membeli barang yang bernilai tinggi. Namun, fenomena ini sudah masuk ke industri keuangan. Skema kredit sekaran jauh lebih mudah karena dapat dilakukan secara online.

Mudahnya, sistem akan berfungsi sebagai layanan kartu kredit biasa dengan mengubah hampir semua pembelian menjadi pembayaran tanpa cicilan. Salah satu perusahaan yang mendapatkan hasilnya dari tren ini adalah Apple.

Skema kredit ini diharapkan menjadi peluang untuk melibatkan nasabah yang lebih luas. Menciptakan pengalaman pembelian yang mulus dan menurunkan tingkat pengabaian kartu. Namun tetap memperhatikan keamanan data dan potensi cyber crime.

Selain itu, tren teknologi lainnya dalam industri keuangan adalah

  • Metaverse
  • Regulasi teknologi keuangan
  • Financial super apps
  • Distributed Ledger Technology (DLT)

Demikian tren teknologi di industri keuangan sekarang ini. Apabila Anda ingin menambah wawasan terkait perkembangan dan tren teknolofi di industri keuangan, kunjungi Digital Transformation Indonesia Conference and Expo 2023 pada 26-27 Juli 2023. Masuk ke laman digitaltransformation.co.id untuk infomarsi dan registrasi.

pemakaian dompet digital

Manfaat dan Penggunaan Dompet Digital di Tengah Masyarakat

Dompet digital adalah salah satu teknologi yang dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Anda dapat melakukan pembayaran secara cepat tanpa perlu membawa uang tunai.

Pemakaiannya tidak hanya terjadi di supermarket maupun mall, bahkan warteg sudah menerima pembayaran lewat dompet digital. Transaksi online maupun lewat QR code membuat pengguna makin nyaman untuk belanja. Selain untuk belanja, Anda dapat mentransfer uang lewat tanpa harus lewat bank.

Dompet digital yang popular di Indonesia adalah GoPay, OVO, dan DANA. Setiap produk ini memiliki beragam promo menarik untuk penggunaannya.

Bagaimana pemakaian dompet digital akan dibahas dalam ulasan berikut ini

Dompet digital

Pengaman biometric dompet digital
Pengaman biometric dompet digital

Dompet digital merupakan aplikasi elektronik untuk alat pembayaran melalui perangkat ponsel. Salah satu kelebihan benda ini adalah terdapat pin dan pengamanan biometric yang hanya bisa diakses oleh pemakainya saja.

Dompet digital dapat dipakai untuk transaksi online lewat e-commerce, belanja kebutuhan harian di minimarket, sampai warung makan. Dengan begitu, Anda tidak perlu repot-repot pergi mengambil uang ke ATM. Apalagi tidak selalu ATM yang dicari dekat dengan lokasi Anda.

Pengguna dompet digital di Indonesia

Penggunaan dompet digital
Penggunaan dompet digital

Berdasarkan hasil survei Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dengan Katadata Insight Center (KIC) pada tahun 2021 mengatakan sebanyak 65,4 persen responden sering memakai dompet digital.

HasIL survei pengguna dompet digital mencatat 26,4 persen masyarakat bertransaksi minimalsebulan sekali. Sedangkan, 22,8 persen mengaku transaksi beberapa bulan sekali. Hanya 6,4% saja yang melakukan transaksi setiap hari.

Keuntungan pemakaian dompet digital

Teknologi sejatinya memberikan keuntungan bagi penggunanya. Dosen STIE UniSadhuGuna Business School Bondan Wicaksono menjelaskan dompet digital mudah digunakan, terhindari dari uang palsu, praktis, transaksi lebih cepat dan terdapat riwayat transaksi.

Ia baru bisa berfungsi ketika ada uang elektronik. Uang elektronik terbagi dua jenis yaitu yang tersimpan di kartu dan aplikasi.

Uang elektronik dalam kartu akan terpasang dengan chip. Pemakaiannya bisa langsung di tempat, tanpa tersambung internet. Uang dalam aplikasi tersimpan dalam server. Untuk memakainya, Anda perlu mengakses aplikasi.

Aplikasi dompet digital di Indonesia

Berikut adalah daftar aplikasi dompet digital di Indonesia

1. GoPay

Gopay

Produk ini diluncurkan pertama kali oleh GoJek. Mulanya, GoPay dipakai untuk pembayaran online untuk driver Gojek. Melihat perkembangannya, GoPay mulai diperkenalkan secara luas di seluruh Indonesia.

Hampir semua transaksi dapat diselesaikan memakai GoPay mulai dari minimarket sampai transportasi MRT. Pengisian uangnya pun hanya dikenakan biaya Rp 1.000 per transaksi.

2. OVO

OVO
OVO

ndonesia memiliki OVO yang banyak digunakan masyarakat. Hampir lebih dari 70% transaksi di Indonesia memakai OVO.

Dalam aplikasi OVO banyak fitur menarik mulai dari membayar transportasi online, pembayaran e-commerce, hingga transfer antar bank tanpa biaya.

3. LinkAja

LinkAja
LinkAja

Link Aja memudahkan Anda untuk bertransaksi secara online. Mulanya, LinkAja bernama TCASH yang merupakan alat transaksi pembayaran pulsa hingga pengajuan pinjaman online. Sampai pada tanggal 30 Juni 2019, TCASH berubah nama menjadi LinkAja.

4. Jenius

Jenius adalah produk dari Bank BTPN. Produk ini mudah dikenali masyarakat karena Teknik pemasarannya dilakukan di tempat umum dan transportasi publik.

Pengguna Jenius akan mendapatkan kartu debit yang dapat dipakai di mana saja, terutama ketika sedang bepergian di luar negeri. Layanan ini sangat digemari karena kemudahan transfer antar bank tanpa ada biaya admin.

Bukan hanya itu saja, Henoch Munandar selaku Direktur Utama PT Bank BTPN Tbk akan membahas tentang pemakaian Big Data dan AI pada bank digital dalam Digital Transformation Indonesia Conference & Expo 2023.

5. Doku

Doku

Doku memberikan layanan pembayaran tagihan bulanan, pulsa, dan belanja di minimarket. Sistem keamanan Doku memakai two-point verification agar tidak mudah diakses sembarangan.

Salah satu kelebihannya adalah terdapat dua versi yaitu bisa dan premium. User premium memiliki limit saldo cash sebesar Rp 5.000.000, sementara user biasa hanya Rp 1.000.000.

6. OCTO Go Mobile

OCTO Go Mobile

Umumnya nasabah CIMB Niaga dapat memakai aplikasi OCTO Go Mobile. Aplikasi keluaran Bank CIMB Niaga merupakan one stop mobile financial solution untuk memudahkan urusan keuangan Anda.

Mulanya, produk ini bernama Go Mobile yang pertama kali dikeluarkan pada tahun 2012. Kemudian diperbaharui di tahun 2017, hingga akhirnya berubah menjadi OCTO Go Mobile pada tahun 2020.
Anda dapat melakukan transaksi cashless melalui barcode QRIS lewat rekening ponsel sampai kartu kredit.

7. DANA

Dana

Aplikasi DANA membuat Anda dapat melakukan transaksi apapun karena sudah dilengkapi sistem kode pin dan OTP agar tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Dengan ini, sistem keamanan terjamin.

Dana diluncurkan pada 5 November 2018 dan dikembangkan oleh PT Espay Debit Indonesia Koe.
Penggunannya dapat Anda gunakan untuk membayar pulsa, listrik, hingga merchant di berbagai tempat. Bahkan dapat mengirim uang ke bank lain.

Pengguna aplikasi ini terbagi menjadi dua kategori yaitu regular dan premium. Pengguna regular dapat top up dengan limit Rp 2 juta. Sementara pengguna premium memiliki limit sampai Rp 5 juta.

Temukan pembahasan bank digital maupun industri perbankan dalam Digital Transformasiton Indonesia Conference & Expo 2023 pada 26-27 Juli 2023 – Grand Ballroom JIEXPO Convertion Centre & Theater. Klik tautan di sini untuk registrasi.

pembayaran non tunai

Menuju Era Pembayaran Tanpa Uang Tunai: Tren dan Tantangan Pembayaran Digital di Indonesia

Indonesia sedang mengalami pergeseran cepat menuju pembayaran digital. Sistem transaksi digital makin populer dengan hadirnya e-wallet, uang elektronik, dan bank digital.

Hal ini didorong oleh tingkat penetrasi internet dan smartphone yang tinggi serta aplikasi e-commerce dan ride-hailing. Meski mengalami kemajuan yang signifikan, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menghadapi masyarakat tanpa uang tunai.

Pembayaran digital di Indonesia mencapai 63,6 miliar

Pembayaran digital

Menurut Statista, industri pembayaran digital di Indonesia menghasilkan pendapatan sebesar 63,6 miliar dolar AS pada tahun 2021. Diperkirakan akan mencapai 124,42 miliar dolar AS pada tahun 2027.

Jumlah pengguna pembayaran digital di Indonesia juga diharapkan meningkat dari 158,7 juta pengguna pada tahun 2021 menjadi 247,26 juta pengguna pada tahun 2027.

E-wallet dan uang elektronik adalah metode pembayaran digital paling populer di Indonesia. Lebih dari 48 sistem e-wallet dengan lisensi dioperasikan oleh perusahaan domestik. Penggunaan dompet seluler juga semakin meningkat. Sebanyak 26 persen dari populasi Indonesia memiliki dompet seluler pada tahun 2020. Angka ini diharapkan akan meningkat menjadi 77 persen pada tahun 2025.

Kelebihan pembayaran tanpa uang tunai

Pembayaran dengan menggunakan barcode

E-wallet dan uang elektronik sangat populer di Indonesia karena pendaftarannya tidak memerlukan rekening bank atau kartu kredit. Kemudahan ini salah satu alasan di balik popularitas mereka. Ini berarti bahwa orang Indonesia yang tidak memiliki rekening bank dapat dengan mudah menggunakan platform pembayaran digital.

Selain itu, aplikasi e-wallet menawarkan pengembalian uang tunai instan dan bonus poin. Sehingga menjadikannya metode pembayaran tanpa uang tunai yang menarik bagi konsumen.

Mayoritas masyarakat indonesia tidak memilliki rekening bank

Uang tunai

Uang tunai masih banyak digunakan di Indonesia walaupun pembayaran digital pun meningkat. Setengah dari populasi Indonesia belum memiliki rekening bank.

Menurut survei konsumen pada tahun 2020, responden Indonesia dari semua usia masih lebih suka menggunakan metode pembayaran tradisional untuk bertransaksi.

Pengambilan pengguna pembayaran digital diharapkan akan terus berlanjut seiring dengan e-commerce dan pembayaran seluler tumbuh lebih dari 45 persen dan 18 persen, masing-masing, pada tahun 2027.

Untuk menjadi masyarakat tanpa uang tunai, Indonesia perlu meningkatkan promosi literasi keuangan digital serta memperluas akses layanan keuangan.

Pembangunan infrastruktur keuangan digital dan keamanan data

Sejalan dengan Presidensi G20 Indonesia pada tahun 2022 dan Gerakan Non-Tunai Nasional (GNNT), digitalisasi pembayaran dan pembayaran lintas batas menjadi agenda prioritas.

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan infrastruktur pembayaran digital nasional BI-FAST untuk mempercepat pembayaran ritel secara real time. Dengan mempercepat lanskap pembayaran digitalnya, Indonesia bertujuan menjadi masyarakat tanpa uang tunai dengan memiliki tata kelola keuangan yang lebih kuat.

Tantangan pembayaran digital di Indonesia

Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia adalah masalah keamanan siber dan privasi data.

Penggunaan platform pembayaran digital yang semakin meningkat telah menimbulkan kekhawatiran keamanan informasi pribadi dan transaksi keuangan. Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk mengembangkan kebijakan dan regulasi keamanan siber untuk melindungi data konsumen.

Tantangan lainnya adalah perlunya meningkatkan inklusi keuangan dan memperluas akses ke layanan keuangan.

Meskipun popularitas e-wallet dan uang elektronik semakin meningkat, masih banyak orang Indonesia yang belum memiliki akses layanan keuangan formal. Indonesia perlu fokus pada pengembangan produk dan layanan keuangan yang mudah diakses sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pergeseran cepat Indonesia menuju pembayaran digital memberikan peluang yang signifikan bagi negara untuk memodernisasi sistem keuangannya, mempromosikan inklusi keuangan, dan menjadi masyarakat tanpa uang tunai.

Untuk mewujudkannya, Indonesia harus mengatasi tantangan terkait keamanan siber, privasi data, dan inklusi keuangan. Dengan begitu, Indonesia dapat memanfaatkan potensi penuh industri pembayaran digitalnya dan pertumbuhan ekonomi negara.

fintech p2p

Fintech P2P Lending dan Beban Hutang: Dijelaskan dari Berbagai Perspektif

Fintech P2P lending telah menjadi pilihan alternatif bagi bisnis untuk memperoleh pinjaman. Layanan fintech P2P lending memberikan kemudahan untuk mendapatkan pinjaman dengan cepat dan mudah. Namun, penggunaannya dibebankan hutang yang harus ditanggung.

Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan tentang fintech P2P lending dan beban hutang dari berbagai perspektif serta bagaimana cara mengurangi beban hutang.

Perspektif Fintech P2P Lending

Fintech P2P lending memungkinkan bisnis untuk memperoleh pinjaman dengan cepat dan mudah. Dalam layanan ini, peminjam mendapatkan pinjaman dana dari investor dengan tingkat bunga yang disepakati.

Tingkat bunga fintech P2P lending cenderung lebih tinggi daripada bank konvensional. Hal ini dikarenakan risiko yang ditanggung oleh investor dalam layanan fintech P2P lending lebih besar dibandingkan bank konvensional.

Dari perspektif fintech P2P lending, layanan ini memberikan manfaat bagi investor dan peminjam. Investor memperoleh keuntungan dari bunga, sementara peminjam memperoleh pinjaman dengan cepat dan mudah. Namun, risiko yang ditanggung oleh investor dan peminjam juga sebanding. Maka, harus dipertimbangkan dengan hati-hati.

Perspektif Peminjam

Beban hutang menjadi risiko yang dipertimbangkan peminjam saat memanfaatkan layanan fintech P2P lending.

Tingkat bunga yang lebih tinggi berdampak pada beban hutang diterima. Oleh karena itu, peminjam perlu melakukan mengenali kemampuan membayar pinjaman sesuai kapasitas. 

Peminjam perlu mempertimbangkan jumlah pinjaman dan tenor yang tepat, agar memudahkan pembayaran pinjaman.

Peminjam perlu mengelola keuangan dengan baik dengan membuat anggaran yang realistis dan memantau pengeluaran. Serta, alokasi dana dan menghindari pengeluaran yang tidak perlu. 

Perspektif Investor

Dari perspektif investor, beban hutang dapat menjadi risiko yang perlu dipertimbangkan.

Investor perlu mempertimbangkan risiko peringkat kredit peminjam dan kemampuan peminjam untuk membayar pinjaman. Oleh karena itu, investor perlu memperhatikan profil risiko peminjam dan menetapkan tingkat bunga yang sesuai. 

Investor juga perlu mengelola portofolio investasi dengan baik, dengan memperhatikan diversifikasi risiko. Diversifikasi risiko dapat dilakukan dengan membagi investasi ke beberapa pinjaman dengan profil risiko yang berbeda-beda.

Dengan melakukan diversifikasi risiko, investor dapat mengurangi risiko dan mendapatkan pengembalian yang lebih stabil.

Investor perlu mempertimbangkan kebijakan dan pengelolaan risiko yang diterapkan layanan fintech P2P lending. Penyedia fintech P2P lending yang baik harus memiliki kebijakan risiko yang jelas dan transparan serta menerapkan pengelolaan risiko untuk mengurangi risiko kredit.

Perspektif Regulasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan regulasi dan panduan untuk layanan fintech P2P lending. Regulasi ini memberikan panduan tentang persyaratan operasional, pengelolaan risiko, dan penerapan kebijakan risiko oleh penyedia layanan P2P lending.

Regulasi ini memberikan perlindungan bagi peminjam dan investor fintech P2P lending. Dengan regulasi yang jelas dan transparan, diharapkan dapat memberikan kepercayaan dan kenyamanan bagi bisnis fintech P2P lending.

Perspektif Bisnis

Dari perspektif bisnis, penggunaan layanan fintech P2P lending membantu bisnis untuk memperoleh pendanaan untuk mengembangkan bisnis. Namun, bisnis perlu mempertimbangkan risiko dan manfaat dari penggunaan pinjaman. Tak lupa memastikan penggunaan pinjaman untuk tujuan bermanfaat bagi bisnis. 

Bisnis perlu mempertimbangkan jumlah pinjaman, tenor, dan ingkat bunga kompetitif. Selain itu, manfaat pengelolaan pinjaman dengan menggunakan dana secara efisien dan efektif untuk tujuan produktif.

Dalam memanfaatkan layanan ini, beban hutang menjadi risiko yang dipertimbangkan peminjam dan investor.

Dengan melakukan perhitungan dan pengelolaan pinjaman yang baik, risiko beban hutang dapat terpenuhi. Regulasi yang jelas dan transparan menjadi faktor penting dalam memberikan perlindungan bagi bisnis.

Penggunaan layanan fintech P2P lending dapat membantu memperoleh pendanaan untuk mengembangkan bisnis.