Transformasi digital di Indonesia memasuki fase yang semakin kompleks memasuki tahun 2026. Jika dalam satu dekade terakhir fokus utama berada pada adopsi teknologi mulai dari pembangunan infrastruktur digital, migrasi ke cloud, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial maka kini tantangannya telah bergeser. Pertanyaan kuncinya bukan lagi “teknologi apa yang digunakan?”, melainkan “apakah manusia dan organisasi siap mengorkestrasi teknologi tersebut menjadi keunggulan nyata?”
Infrastruktur digital dapat dianalogikan sebagai raga, sedangkan sumber daya manusia (SDM) adalah jiwa yang menghidupkannya. Raga yang kuat tanpa jiwa yang terarah hanya akan diam tanpa makna. Begitu pula teknologi: tanpa kepemimpinan yang visioner, budaya organisasi yang adaptif, dan talenta yang kompeten, investasi digital berisiko menjadi beban biaya alih-alih pendorong produktivitas.
Pada tahun 2026, keunggulan kompetitif Indonesia tidak akan ditentukan oleh siapa yang memiliki sistem paling canggih, tetapi oleh siapa yang mampu menyelaraskan manusia, proses, dan teknologi dalam satu orkestrasi strategis yang utuh.
Realitas Keras: Jurang Kapabilitas dan Risiko Stagnasi
Di berbagai organisasi, baik sektor publik maupun swasta, anggaran besar telah digelontorkan untuk transformasi digital. Namun, hasilnya kerap tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan. Fenomena ini mencerminkan adanya kesenjangan kapabilitas manusia (human capability gap).
Pertama, masih banyak investasi teknologi yang tidak memiliki kejelasan dampak atau ROI. Teknologi diperlakukan sebagai proyek infrastruktur, bukan sebagai instrumen perubahan cara kerja. Sistem baru dibangun, tetapi proses lama tetap dipertahankan. Akibatnya, transformasi hanya terjadi di permukaan.
Kedua, variabilitas kinerja organisasi lebih banyak ditentukan oleh faktor manusia dibandingkan oleh teknologi itu sendiri. Lebih dari separuh perbedaan kinerja organisasi sering kali dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta efektivitas dalam mengelola perubahan. Tanpa kepemimpinan yang kuat, teknologi secanggih apa pun tidak akan menghasilkan lompatan kinerja.
Ketiga, terdapat kesenjangan antara kebijakan dan implementasi. Strategi digital kerap terlihat matang di atas kertas, tetapi gagal diterjemahkan ke dalam praktik operasional. Regulasi dan panduan teknis belum sepenuhnya diuji dalam konteks lapangan, sehingga implementasinya terhambat oleh realitas birokrasi dan budaya kerja yang belum berubah.
Inilah yang dapat disebut sebagai capability chasm—jurang antara kompetensi saat ini dan tuntutan masa depan. Banyak organisasi telah “membeli” teknologi mutakhir, tetapi fondasi kemampuan manusianya masih berada di bawah garis kebutuhan.

Kepemimpinan Digital dan Orkestrasi Talenta Menuju 2026
Tantangan terbesar transformasi digital bukan hanya pada hard skills, melainkan pada dimensi yang lebih mendasar: budaya dan kepemimpinan.
Pertama, defisit soft skills dan budaya data masih menjadi kendala utama. Organisasi mungkin telah merekrut analis data atau data scientist, tetapi belum membangun budaya pengambilan keputusan berbasis bukti. Dashboard tersedia, laporan berlimpah, namun keputusan tetap didorong oleh intuisi atau hierarki. Data menjadi ornamen, bukan instrumen strategis.
Kedua, terdapat ilusi data-driven. Banyak organisasi merasa telah menjadi digital karena memiliki sistem pelaporan modern, padahal proses pengambilan keputusan belum berubah secara substansial. Tanpa kemampuan interpretasi dan keberanian mengambil keputusan berbasis data, transformasi hanya bersifat kosmetik.
Ketiga, kesenjangan learnability menjadi isu krusial. Di era perubahan cepat, kompetensi teknis memiliki umur yang semakin pendek. Yang dibutuhkan adalah rasa ingin tahu intelektual, kemauan belajar berkelanjutan, serta sistem reskilling dan upskilling yang terstruktur di semua level organisasi.
Oleh karena itu, transformasi digital berkelanjutan menuntut kepemimpinan top-down yang tidak sekadar menyetujui anggaran teknologi, tetapi mampu menjadi culture architect. Pemimpin digital harus memastikan bahwa teknologi, talenta, dan proses bergerak dalam arah yang sama. Transformasi tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif bottom-up yang terfragmentasi.
Menuju 2026, Indonesia perlu bergeser dari pendekatan tech-adoption menuju talent-orchestration. Teknologi harus diposisikan sebagai akselerator, sementara manusia menjadi pusat strategi. Keunggulan kompetitif bangsa akan lahir bukan dari kecanggihan sistem semata, melainkan dari kemampuan kolektif untuk mengorkestrasi manusia, data, dan teknologi secara terpadu dan berkelanjutan.
DTI edisi 2026 akan hadir dengan skala yang lebih besar dan pembahasan yang semakin komprehensif. Melanjutkan kesuksesan 2025, DTI 2026 akan membahas mengenai teknologi HR, berbagai macam implementasinya dalam industri dengan lebih detail.


