Oleh: Arki Rifazka, S.T., M.M.
Kita sering membayangkan pusat data itu seperti gudang server yang tinggal diisi perangkat lalu jalan sendiri. Kenyataannya, yang paling sering bikin pusing justru hal yang tidak kelihatan di layar, yaitu menjaga suhu tetap stabil setiap menit agar layanan tidak berhenti. Kalau Anda pernah masuk ruang server kantor yang tiba-tiba panas karena pendingin bermasalah, Anda tahu rasanya. Dampaknya bukan cuma gerah, tetapi bisa merembet ke gangguan layanan, keluhan pengguna, dan biaya yang melonjak. Di tengah kebutuhan digital yang terus naik, biaya energi untuk pendinginan pelan-pelan berubah jadi penentu daya saing.
Mengapa PUE Saja Tidak Cukup untuk Menilai Efisiensi Pusat Data
Karena itu, banyak orang menjadikan Power Usage Effectiveness (PUE) sebagai patokan cepat untuk menilai seberapa hemat fasilitas, yaitu rasio energi total fasilitas dibanding energi yang dipakai perangkat teknologi informasi. Patokan ini berguna, tetapi kalau dipakai sendirian, kita bisa tergoda mengejar angka tanpa memastikan sistemnya benar-benar sehat.
Masalahnya sederhana. PUE bisa membaik karena banyak hal, dan tidak semuanya baik. Perbaikan yang “dipaksa” dengan mengurangi margin keselamatan termal bisa saja menurunkan konsumsi listrik pada kertas, tetapi membuka risiko gangguan yang jauh lebih mahal daripada penghematan tagihan. Di titik ini, mengejar rasio tanpa memahami kondisi sistem justru bisa menjadi bumerang.
Dari Pendinginan Efisien ke Sistem Sehat: Peran COP dalam Kinerja Termal
Karena itu, kita perlu memindahkan cara pikir dari sekadar mengejar angka, menjadi membenahi kinerja pendinginan sebagai sebuah sistem. Salah satu ukuran yang membantu adalah Coefficient of Performance (COP), yaitu perbandingan antara efek pendinginan yang dihasilkan dibanding energi yang dipakai sistem pendingin.
Ukuran seperti ini membuat kita lebih mudah melihat apakah peralatan dan desain pendinginan bekerja efisien secara fisik, bukan hanya terlihat hemat secara laporan. Dengan COP, perhatian bergeser ke stabilitas operasi, kecukupan kapasitas, dan bagaimana sistem merespons beban nyata, bukan hanya ke hasil akhir di neraca energi.

Melampaui Efisiensi Internal: Strategi Pemanfaatan Energi dan Nilai Bisnis
Langkah berikutnya yang sering terasa seperti lompatan, tetapi sebenarnya logis, adalah mulai melihat panas buangan sebagai bagian dari strategi energi, bukan sekadar konsekuensi operasi yang harus dibuang. Dalam banyak fasilitas, panas buangan diperlakukan seperti limbah yang harus disingkirkan secepat mungkin. Padahal, pada kondisi tertentu panas tersebut bisa dipulihkan untuk memberi nilai tambahan, misalnya untuk pemanasan air atau kebutuhan termal lain di lingkungan sekitar.
Chen dan kolega menunjukkan bahwa sistem terintegrasi yang menggabungkan pendinginan pusat data dan pemulihan panas buangan dapat dievaluasi dengan indikator yang lebih kaya. Bukan hanya PUE dan COP, tetapi juga Energy Reuse Effectiveness (ERE), yaitu ukuran yang membantu melihat seberapa jauh energi yang sebelumnya “terbuang” dapat dimanfaatkan kembali menjadi manfaat nyata (Chen et al., 2023). Dalam perspektif ini, efisiensi tidak lagi berhenti pada pengurangan konsumsi, tetapi berkembang menjadi upaya mengatur aliran energi agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih luas.
Tentu ada pertanyaan yang wajar. Apakah pendekatan pemulihan panas ini selalu masuk akal di semua lokasi. Jawabannya tidak selalu, dan itu bukan masalah. Chen et al. menekankan bahwa manfaat dan kelayakan ekonomi sangat sensitif terhadap konteks, seperti suhu lingkungan dan kebutuhan pemanasan di wilayah setempat, sehingga hasilnya bisa berbeda antarlokasi (Chen et al., 2023). Namun justru di sinilah kualitas keputusan diuji. Konteks bukan alasan untuk kembali mengejar satu angka, melainkan alasan untuk memperluas sudut pandang dan memilih desain sistem yang paling masuk akal.
Dalam praktiknya, PUE tetap berguna sebagai ringkasan komunikasi. Namun keputusan investasi yang sehat biasanya membutuhkan beberapa kacamata sekaligus: PUE untuk gambaran umum, COP untuk menilai kinerja pendinginan, dan ERE untuk menilai peluang pemanfaatan energi kembali.
Takeaway yang bisa kita pegang begini. Jika ingin efisiensi pusat data terasa nyata dan tetap aman secara operasional, ada tiga pertanyaan yang layak diajukan sebelum mengejar target angka. Pertama, apakah sistem pendinginan kita stabil dan kinerjanya terukur, misalnya melalui COP, bukan hanya PUE. Kedua, apakah ada peluang pemanfaatan panas buangan yang masuk akal di konteks lokasi kita, sehingga ERE bisa ikut membaik. Ketiga, apakah rencana perbaikannya memiliki logika investasi yang jelas, termasuk perkiraan payback period yang realistis. Dengan cara pandang ini, efisiensi tidak lagi terasa seperti proyek kosmetik, tetapi sebagai desain sistem energi yang membantu mengendalikan biaya, menjaga keandalan layanan, dan memperlebar ruang daya saing (Chen et al., 2023).
Referensi
- Chen, X., Wang, X., Ding, T., & Li, Z. (2023). Experimental research and energy saving analysis of an integrated data center cooling and waste heat recovery system. Applied Energy, 352, 121875.


