Oleh: Arki Rifazka, S.T., M.M. – Digital Transformation Specialist, Staf Khusus Ketua Umum APJII (Sejak Januari 2026), Eks Kepala BPH APJII (2022-2025), Eks Direktur Eksekutif MASTEL (2018-2022)
Satu fitur yang terlambat dirilis sering kali lebih mahal daripada satu server yang harus ditambah. Pada 2026, banyak pimpinan bisnis tidak lagi mempertanyakan perlu atau tidaknya beralih ke komputasi awan, melainkan seberapa cepat cloud dapat diubah menjadi keunggulan kompetitif yang terlihat di pasar. Komputasi awan telah berevolusi dari proyek migrasi infrastruktur menjadi infrastruktur persaingan yang menentukan kecepatan rilis, stabilitas aplikasi, dan kelincahan organisasi dalam merespons perubahan permintaan.
Dalam konteks ini, tuntutan pemegang anggaran juga berubah. Investasi digital diharapkan mampu memperpendek time to market, menurunkan friksi operasional, dan meningkatkan ketahanan layanan, bukan sekadar menghasilkan laporan aktivitas. Relevansinya dengan agenda transformasi digital lintas industri yang dibahas dalam forum seperti DTI-CX semakin jelas, karena forum tersebut mempertemukan pengambil keputusan dan penyedia solusi untuk mempercepat eksekusi tanpa mengorbankan pengendalian risiko dan tata kelola (Digital Transformation Indonesia, 2026).
Ilusi Migrasi Cepat dan Munculnya Biaya Ganda
Meski adopsi cloud meningkat, banyak organisasi gagal menangkap nilainya karena memperlakukan cloud sebagai peristiwa teknis yang selesai saat migrasi rampung. Pendekatan ini menciptakan ilusi percepatan, sementara proses kerja inti tetap tersendat oleh persetujuan yang lambat, arsitektur yang tidak konsisten, dan kesiapan organisasi yang belum matang.
Akibatnya, organisasi menanggung dua beban sekaligus. Di satu sisi, percepatan tidak tercapai secara utuh. Di sisi lain, risiko meningkat akibat kompleksitas konfigurasi, lemahnya disiplin kontrol akses, dan rendahnya transparansi biaya. Tanpa perubahan cara kerja, cloud berhenti sebagai pemindahan beban kerja dan justru menambah kerentanan operasional serta reputasi.

Orkestrasi Keputusan sebagai Sumber Nilai Komputasi Awan
Nilai komputasi awan baru muncul ketika keputusan teknis dan manajerial bergerak secara terorkestrasi. Golightly et al. (2022) menekankan bahwa adopsi cloud sebagai inovasi organisasi menuntut koordinasi lintas fungsi, bukan proyek TI yang berjalan sendiri. Keputusan mengenai layanan, arsitektur, dan pengamanan harus saling menguatkan agar kecepatan yang dihasilkan tidak berubah menjadi sumber risiko baru.
Pada praktiknya, cloud bekerja sebagai pasar kapasitas komputasi yang elastis. Ketika dikelola dengan baik, organisasi dapat mengalihkan fokus dari pengelolaan infrastruktur menuju perancangan layanan, pengujian cepat, dan perbaikan berkelanjutan. Namun percepatan ini hanya berkelanjutan bila dibingkai oleh tata kelola yang jelas, termasuk pembagian kewenangan, standar arsitektur, dan pengamanan sejak tahap desain.
Implikasi Lintas Industri dan Tantangan Ketergantungan Ekosistem
Implikasi adopsi cloud berbeda antarindustri, tetapi benang merahnya sama: time to market dan daya tahan layanan menjadi mata uang baru. Di sektor BFSI, percepatan rilis harus sejalan dengan kontrol risiko dan kepatuhan. Di telekomunikasi, elastisitas kapasitas mempercepat inovasi, tetapi disiplin konfigurasi dan pengelolaan biaya menjadi krusial. Di manufaktur, integrasi data operasional dan rantai pasok harus dijaga agar modernisasi tidak memicu gangguan produksi. Di sektor publik, stabilitas layanan menuntut tata kelola yang kuat karena migrasi cloud mengubah pola kontrol dan akuntabilitas.
Di tengah ekosistem yang semakin terhubung, dukungan penyedia dan lingkungan memang mempercepat adopsi, tetapi ketergantungan yang muncul perlu dinegosiasikan. Studi menunjukkan bahwa kekhawatiran keamanan dan kehilangan kontrol dapat menurunkan niat adopsi, sementara dukungan eksternal justru mendorongnya (Bhardwaj et al., 2021). Karena itu, tantangannya bukan menghindari cloud, melainkan merancang strategi tata kelola, kontrak layanan, dan kapasitas internal yang menjaga posisi tawar organisasi.
Pada akhirnya, komputasi awan mengubah TI dari pusat biaya menjadi penggerak pertumbuhan ketika organisasi memperlakukan cloud sebagai mesin produktivitas yang diorkestrasi dengan baik. Pertumbuhan di era cloud tidak dibeli lewat migrasi semata, melainkan melalui keselarasan antara kecepatan, keamanan, dan tata kelola sebagai satu kesatuan keputusan strategis.
Referensi
- Ali, O., Shrestha, A., Osmanaj, V., & et al. (2021). Cloud computing technology adoption: An evaluation of key factors in local governments. Information Technology & People.
- Aligarh, F., Sutopo, B., & Widarjo, W. (2023). The antecedents of cloud computing adoption and its consequences for MSMEs’ performance: A model based on the Technology–Organization–Environment (TOE). Cogent Business & Management.
- Bhardwaj, A. K., Garg, L., Garg, A., & Gajpal, Y. (2021). E-learning during COVID-19 outbreak: Cloud computing adoption in Indian public universities. Computers, Materials & Continua, 66(3).*
- Digital Transformation Indonesia. (2026). Prospectus DTI 2026 General: The 5th Edition – Asia’s Emerging Digital Ecosystem.
- Golightly, L., Chang, V., Xu, Q. A., Gao, X., & et al. (2022). Adoption of cloud computing as innovation in the organization. International Journal of [SAGE journal].
- Wulf, F., Lindner, T., Westner, M., & Strahringer, S. (2021). IaaS, PaaS, or SaaS? The why of cloud computing delivery model selection.


