Oleh: Arki Rifazka, ST. MM. – Digital Transformation Specialist, Eks Kepala BPH APJII (2022-2025), Eks Direktur Eksekutif MASTEL (2018-2022)
Dalam satu dekade terakhir, konektivitas makin diperlakukan sebagai prasyarat pertumbuhan, bukan sekadar layanan tambahan. Ketika permintaan melejit di wilayah yang sulit dijangkau jaringan darat, pilihan teknologi yang terlihat teknis sesungguhnya berfungsi seperti keputusan struktur pasar. Perdebatan konektivitas satelit kerap jatuh pada dikotomi sederhana seolah cukup menambah kapasitas atau memilih penyedia tertentu, padahal yang lebih menentukan adalah arsitektur sistem karena arsitektur memutuskan siapa mengendalikan performa, siapa menanggung risiko operasional, dan siapa menguasai titik nilai yang menghasilkan margin. Dalam konteks direct-to-cell (D2C) sebagai model konektivitas satelit langsung ke perangkat seluler, taruhannya makin besar karena D2C berambisi menjadi lapisan akses bagi publik luas, bukan hanya sambungan khusus. Sejumlah kajian tentang lintasan non terrestrial network (NTN) menuju 5G-Advanced dan 6G juga menegaskan bahwa integrasi ujung ke ujung menjadi prasyarat agar layanan konsisten lintas segmen ruang, udara, dan darat. Pertanyaan kuncinya adalah bagaimana pergeseran dari satelit besar tunggal ke arsitektur terdistribusi berbasis swarm satelit kecil mengubah struktur biaya, daya tawar pelaku, dan peluang industri lokal.
Masalahnya, arsitektur menentukan pasar karena ia menentukan biaya, ketergantungan, dan cara risiko dibagi. D2C sering dibayangkan sebagai base station di ruang angkasa yang harus melayani perangkat murah di Bumi, lalu muncul gagasan satelit besar dengan antena raksasa sebagai jawaban. Namun riset Tuzi dan kolega menunjukkan pembalikan logika ketika platform besar dipecah menjadi swarm satelit kecil yang bersama sama bertindak sebagai distributed phased array. Dampak ekonominya berangkat dari mekanisme sederhana. Ketika performa tidak lagi terkunci pada satu aset raksasa, risiko single point of failure turun dan strategi peningkatan layanan berubah dari membeli satu platform besar menjadi menambah, mengatur, atau mengganti sebagian elemen yang modular. Modularitas memang memperlebar pintu masuk pelaku baru karena kebutuhan tidak lagi terbatas pada kemampuan membuat satelit super, tetapi bergeser ke kemampuan integrasi subsistem, produksi satelit kecil berskala, dan pengelolaan kendali misi serta orkestrasi.
Solusi arsitektural tersebut membawa konsekuensi biaya yang pindah tempat, bukan hilang begitu saja, sehingga desain pasar perlu membaca sumber biaya baru secara jernih. Ketika satelit kecil harus membentuk antena bersama, tantangan beamforming dan sinkronisasi menjadi pusat biaya dan pusat risiko. Studi Tuzi, Delamotte, dan Knopp menyoroti bagaimana geometri swarm memengaruhi gain dan artefak radiasi seperti grating lobes yang dapat menurunkan kualitas layanan, sehingga diperlukan optimasi geometri dan pendekatan seperti enhanced logarithmic spiral array (ELSA). Pada tahap ini, pemenangnya bukan semata pemilik perangkat keras, melainkan pihak yang mampu mengubah kompleksitas integrasi menjadi layanan yang stabil dan dapat diulang. Jika stabilitas kualitas dapat dijamin, daya tawar harga terbentuk karena pasar membayar konsistensi, bukan angka kapasitas di atas kertas. Artinya, pergeseran dari satelit besar ke swarm menggeser biaya dari material dan struktur raksasa menuju perangkat lunak, kendali, dan integrasi ujung ke ujung yang membuat layanan terasa menyatu dengan jaringan seluler.
Implikasi bisnisnya terasa lintassektor karena modularitas membuka rantai nilai, tetapi menuntut kecerdasan operasi sebagai aset strategis. Pada sistem terpusat, rantai nilai cenderung dikuasai pemain yang mengendalikan satelit, spektrum, dan layanan sekaligus. Pada sistem terdistribusi, peluang muncul bagi integrator, penyedia komponen, pengelola kendali misi, serta pelaku yang mengelola interkoneksi darat, pusat data, dan komputasi tepi. Peta jalan NTN menuju 5G-Advanced dan 6G menekankan bahwa NTN perlu menjadi bagian integral arsitektur layanan, sehingga nilai bisnis tidak hanya berada di orbit dan payload, tetapi juga pada integrasi dengan jaringan inti dan operasi jaringan. Di titik ini, pembelajaran penguatan atau reinforcement learning (RL) sering dibahas sebagai pendekatan untuk keputusan kontrol yang dinamis, misalnya alokasi sumber daya, manajemen mobilitas, dan routing, sementara Markov decision process (MDP) digunakan untuk memformalkan masalah keputusan berulang. Konsekuensinya dua arah. Pelaku yang menguasai data operasi dan siklus peningkatan model dapat mempercepat perbaikan kualitas, tetapi tanpa tata kelola data dan keamanan model, otomatisasi dapat memperlebar permukaan risiko karena kesalahan kebijakan kendali dapat menyebar cepat pada sistem yang terotomasi.
Bagi sektor seperti telko, manufaktur, logistik, energi, layanan publik, dan BFSI, isu kuncinya bukan sekadar kapasitas puncak, melainkan keterlayanan yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan. Studi tentang cell-free massive multiple-input multiple-output (CF-MIMO) yang difederasikan menunjukkan bahwa koordinasi multinode dapat menaikkan kapasitas, tetapi pada kondisi tertentu dapat meningkatkan porsi pengguna yang tidak terlayani, sehingga sistem yang terlihat unggul di metrik throughput bisa kalah di metrik keterlayanan. Counter-argument yang wajar menyebut satelit besar lebih sederhana, lebih mudah diaudit, dan lebih cepat dieksekusi untuk target jangka pendek, sementara swarm meningkatkan kompleksitas dan titik potensi kegagalan. Sanggahannya bukan menolak kesederhanaan, melainkan merancang koridor interoperabilitas dan auditabilitas agar beberapa arsitektur bisa bersaing secara sehat. Materi kebijakan dari ASSI juga menekankan risiko ketergantungan dan lock-in ketika tekanan eksternal meningkat dan beban regulasi tidak simetris, sehingga yang dibutuhkan adalah level playing field, kewajiban interoperabilitas, serta pengukuran kualitas layanan yang memasukkan keterlayanan sebagai metrik inti. Karena perkembangan ini bergerak cepat dan menyentuh banyak sektor, keberadaan forum, baik konferensi maupun pameran showcasing, pada 2026 menjadi penting agar pelaku industri, regulator, dan penyedia teknologi dapat menyepakati definisi kualitas, prinsip audit, dan aturan main kompetisi sejak awal, sebelum struktur pasar terbentuk terlalu terkunci. Tesis besarnya adalah arsitektur terdistribusi akan menjadi instrumen kebijakan industri yang efektif hanya bila kompleksitas koordinasi ditransformasikan menjadi standar, tata kelola, dan pasar jasa integrasi yang dapat diskalakan, bukan sekadar jargon inovasi.


